Ia ada, aku tahu ia takan kemana
Kami disini, di hatinya di hatiku
Aku tahu ia takan kembali,
ia tak memegang janzi
Disana mungkin ia sendiri,
mungkin tertawa atau lelah dengan harinya
Aku pahami semua ini
aku terlalu teruru-buru,
terlalu banyak cita yang aku tawarkan
hatinya belum siap, Ia berbalik ragu
Mungkin juga ia menangis,
ia tutupi dengan bara-bara keteguhan hidup
bersama kesibukannya, ia katakan
" aku bahagia ".
Kau lemah, kasih. Aku merasakannya
aku juga seperti itu
Ia tahu aku takan katakan kembali,
ia juga takan katakan itu
Namun saat terasakan,
saat itulah aku benar-benar terasa lemah
Terkadang aku menyesal,
aku benci tanpanya
seperti yang ku ucap dahulu
Ia juga ucap begitu
Ku selalu ingat saat-saat bersamanya,
di rumahnya, tangis keluhnya
canda-tawa malu kami,
tempat-tempat yang pernah kami santuni
Aku sering pikirkan semua itu,
aku sering mendatanginya sendiri,
meski sejenak tak untuk ku gapai kembali
Namun berjuta benak yang terekam,
aku selalu mengharapkan..
Kau...
Benar, ku ingin kau kembali
Seperti saat-saat itu, kisah-kisah kita
aku tengah rindu selama ini
Ia tahu keluargaku menyayanginya,
yang cita kami tengah hendak memisah tuk bersama.
ia pasti rindu ayahku, ibuku, semuanya,
lagu-lagu kebangsaannya juga gitar usang
yang pernah kami mainkan bersama dulu
Ia pasti ingat itu
Entah kapan tuhan kan jawab inginku ini,
mungkin di tahun nanti,
mungkin di tahun lusa aku tak tahu
Mungkin ia kan tahu kabar ini setelah semuanya terlambat lagi,
saat ia telah memiliki pengganti
Tapi genggamlah jari manismu, Kasih.
kapanpun kau dengar,
kau lihat, kau rasakan,
meski terlambat untuku disampingmu,
katakanlah dalam hatimu untuk kembali,
karena aku selalu mengharapkannya
Jika semua terlanjur gelap,
tak apa, aku bisa mengerti
Aku tak ingin menyakitimu,
aku tak ingin menganggu
Tapi, kapanpun..
Tidur dan bangunnya diriku,
tertutup dan luangnya harapan untukku
Aku menunggumu, selalu menunggu...
Yang Hilang dan yang takan Kembali
21 Agustus 2011